Jumat, 29 November 2013

Parfum dari Kotoran Sapi – Karya Siswa SMU di Lamongan



Nimas Ayu Aprilia
XI AP2

Parfum dari Kotoran Sapi – Karya Siswa SMU di Lamongan
Lamongan,Majalahinovasi.com – Parfum dari kotoran sapi? Mungkin tidak masuk akal bagi sebagian besar orang, namun tidak demikian bagi Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti. Mereka berdua menciptakan pengharum ruangan dari tinja sapi. Karya mereka meraih Juara III ajang International Environment Project Olympiade (INEPO) 2013 di Istanbul, Turki, pada 17-20 Mei 2013.
Siswa SMU Muhammadiyah Babat-Lamongan ini bersaing ketat dalam adu karya dengan peserta dari 50 negara, diantaranya adalah Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Portugal, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia dan Polandia. Sebelum dilombahkan di Istanbul,  karya dua siswa itu berhasil meraih juara pertama tingkat nasional ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013.
http://majalahinovasi.com/wp-content/uploads/2013/07/dwi-nailul-izzah.jpg
Dwi Nailul Izzah / ANTARA
Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan respon positif atas kreatifitas dan prestasi kedua siswa tersebut. Menurut juru bicara pemerintah Kabupaten Lamongan, Mohammad Zamroni, pemerintah sudah menjadwalkan pengajuan hak paten atas pengharum ruangan di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM. “Kami yang akan mendaftarkan,” kata Zamroni seperti yang dilansir dari Tempo pada 21 Mei 2013.

Kedua siswi tersebut sebelumnya pernah mempresentasikan karya mereka di depan Bupati Lamongan Fadeli di Guest House Pemerintah Kabupaten Lamongan, Kamis, 7 Maret 2013. Mereka menceritakan pengharum dari kotoran sapi dibuat dengan biaya murah, yakni Rp 21 ribu yang bisa menghasilkan kemasan berisi 225 mililiter. Sebagai perbandingan, produk pengharum ruangan di pasaran di jual Rp 39.900 untuk kemasan 275 gram.
Bukan tanpa alasan kedua siswa itu memilih kotoran sapi sebagai bahan baku pembuatan pengharum. Ini merujuk pada persyaratan panitia INEPO 2013 yang diantaranya memberi syarat bahan baku harus yang mudah ditemukan di semua negara. Mereka pun memilih bahan baku kotoran sapi yang mudah didapat. Apalagi, Kabupaten Lamongan memiliki populasi sapi yang berlebih. Pada 2012 saja, populasi sapi mencapai 116.963 ekor.
Sekolah menyambut gembira prestasi peraih prestasi tinggi dan bergengsi di bidang ilmu pengetahuan. “Kami bersyukur,” kata guru pengasuh SMU Muhammadiyah Babat, Emzita Taufiq. (tc/pp)

0 komentar:

Poskan Komentar