Jumat, 30 November 2012

Penggunaan pewarna alami dalam membuat batik

Industri pembuatan kain batik, baik skala kecil maupun menengah, hendaknya menggunakan pewarna alami daripada pewarna tekstil sintetis. Limbah hasil pencelupan batik dengan pewarna alami dinilai lebih aman dan tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan.
Alasannya adalah karena pewarnaan tersebut berasal dari alam, dengan sendirinya zat-zat yang terkandung dalam pewarna alami dapat mudah terurai. Berbeda dengan pewarna tekstil sintetis yang sulit terurai di alam, hal ini sesuai dengan perkataan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY, Harnowati,
Limbah dengan pewarna tekstil sintetis akan mencemari sumber-sumber air warga, baik yang dibuang ke sungai, atau yang dibuang ke tanah karena akan mudah masuk ke sumur. Dampak pencemaran baru terasa setelah beberapa puluh tahun kemudian, terutama bagi kesehatan warga, yakni ancaman kanker atau gangguan pencernaan akibat akumulasi zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh melalui air minum.
Menurut pantauan Bapedalda DIY, tingkat pencemaran air sungai maupun air bawah tanah oleh limbah hasil pencelupan batik masih dalam ambang toleransi. Akan tetapi, pencemaran ini harus diantisipasi sejak awal agar tidak sampai ke tahap mengkhawatirkan seperti yang terjadi di beberapa sentra batik di Jawa Tengah, seperti Solo dan Pekalongan.
Pewarnaan dengan bahan dasar alam yang biasa dibuat berupa pasta warna biru yang berasal dari olahan daun indigo. Selain warna biru, terdapat pula pasta dengan warna-warna lain seperti coklat dari hasil rendaman kayu mahoni, coklat kemerahan dari buah enau, atau hijau dan kuning yang berasal dari rendaman aneka dedaunan. Namun jumlah produksi pasta warna alami masih terbatas, karena tidak dibuat secara massal.
So., let’s save our planet with batik!!
.
.
.
Posted by Fauzi Mulyana

0 komentar:

Poskan Komentar